Raka Adhitama dengan jas gelap, duduk di kursi studio

Pendiri Kopi Ruang

Raka
Adhitama

Dari satu gerobak kopi ke 42 outlet.

Coupe sport hitam di depan garasi

Mobil pertama
dari hasil kopi.

Outlet ke-20,
usia 26.

Toyota GR86 hitam. Hadiah untuk diri sendiri setelah outlet ke-20 buka.

Coupe sport hitam dilihat dari belakang di jalan kota

“Kerja keras boleh. Lupa menikmati, jangan.”

Dari gerobak
ke 42 outlet.

Tujuh tahun lalu, Raka menjual kopi dari satu gerobak di pinggir jalan. Modalnya tabungan dan satu mesin espresso bekas.

Bukan keberuntungan. Kopi yang konsisten, tim yang dipercaya, dan bangun jam empat pagi setiap hari.

42

outlet Kopi Ruang di 9 kota

600+

karyawan, kebanyakan di bawah 30 tahun

7

tahun sejak gerobak pertama

Dan dia tidak naik sendirian.

Garasi.

Coupe sport hitam di depan garasi pada malam hari
Mobil hitam terparkir di depan rumah
Rumah sendiri, akhirnya.
Coupe sport hitam dari samping
Raka bersandar di mobil hitamnya di parkiran
Hadiah outlet ke-20
Beberapa jam tangan tersusun di atas meja putih

Jam tangan.

“Waktu satu-satunya yang tidak bisa dibeli ulang.”

Koleksi kecil di satu meja. Bukan soal barangnya. Pengingat bahwa waktunya sekarang miliknya sendiri.

Keliling dunia.

“Ide terbaik datang dari kedai kopi di kota lain.”

  1. Raka di salju HokkaidoGerbang torii merah di Jepang

    Jepang

    Hokkaido di musim dingin. Belajar sabar dari barista Jepang.

  2. Raka di gang batu BarcelonaCity of Arts and Sciences, Valencia

    Spanyol

    Barcelona, lalu Valencia. Kopi pagi di gang batu.

  3. Jalan sempit di Toledo dengan katedralGedung parlemen Budapest saat senja

    Eropa

    Toledo, lalu Budapest. Kafe tua yang bertahan ratusan tahun.

  4. Balon udara di langit CappadociaRaka memandang balon udara di Türkiye

    Türkiye

    Cappadocia. Mimpi sejak masih jaga gerobak.

  5. Rumah warna-warni Gamcheon, BusanTembok Besar China di perbukitan hijau

    Busan & China

    Musim panas di Busan, lalu Tembok Besar.

  6. Raka di Sydney dengan Harbour BridgeOpera House dan Harbour Bridge saat senja

    Sydney

    Salah satu kota kopi terbaik dunia. Pulang bawa banyak catatan.

Di panggung.

Raka dan pasangannya di malam penghargaan, memegang piala

Malam Penghargaan 2026

“Untuk tim yang bangun lebih pagi dari saya.”

Pembicara di panggung menghadap ratusan penonton

Town hall

“Outlet ke-50 dimulai dari kebiasaan kecil hari ini.”

Pembicara dengan mikrofon di panggung konferensi

Panel F&B

“Konsistensi mengalahkan bakat.”

Memberi kembali.

1.200 anak muda sudah ikut kelas barista gratis. “Dulu saya belajar dari YouTube dan mesin bekas. Mereka layak dapat awal yang lebih baik.”

Kelas seduh manual untuk anak muda Peserta belajar menyeduh kopi Peserta berlatih latte art Latte art di cangkir putih

Berikutnya: 5.000 lulusan di 2030.

Orang-orang
yang ikut naik.

Mereka mulai sebagai barista. Sekarang memimpin outlet sendiri.

Tegar menyajikan kopi di outletnya

Tegar · 26 tahun

Dulu: barista shift pagi di gerobak kedua.

Sekarang mitra pemilik 3 outlet di Bandung.

“Mas Raka ngajarin hitung HPP sebelum ngajarin latte art.”
Eka tersenyum di pintu outletnya

Eka · 25 tahun

Dulu: kasir paruh waktu sambil kuliah.

Sekarang kepala area, 6 outlet di Yogyakarta.

“Dikasih kepercayaan dulu, jabatan menyusul.”
Vino memegang cangkir kopi di outletnya

Vino · 27 tahun

Dulu: angkatan pertama kelas barista gratis.

Sekarang mengelola outlet sendiri di Malang.

“Semua mulai dari satu cangkir yang dibikin benar.”

Kopi Ruang di kotamu.

Kami mencari mitra yang mau turun langsung di outletnya.

Jadi mitra Kopi Ruang